Another Source

wakno

Pages

Rabu, 14 September 2011

Pengertian Inquiri, Ekspositori, dan Teori Pemahaman


 Kata inquiri berarti menyelidiki dengan cara mencari informasi dan melakukan pertanyaan-pertanyaan. Dengan model inkuiri ini pembelajar dimotivasi untuk aktif  berpikir, melibatkan diri dalam kegiatan dan mampu menyelesaikan tugas sendiri. Para ahli pendidikan dan juga para pengajar cenderung menggunakan istilah model pendekatan inkuiri. Model pembelajaran inkuiri sering digunakan bergantian dengan metode penemuan. Dalam bahasa Inggris disebut (Discovery Approach) yang artinya ialah penyelidikan melalui pencarian informasi atau pertanyaan-pertanyaan. Ada kaitan erat antara menyelidiki dengan penemuan.
Model pembelajaran inquiri berorientasi pada pengolahan informasi dengan tujuan melatih siswa memiliki kemampuan berpikir untuk dapat menemukan dan mencari suatu pengetahuan secara ilmiah. Melalui model inquiri, pembelajaran dimaksudkan untuk membantu pembelajaran secara ilmiah, terampil mengumpulkan fakta, menyusun konsep, menyusun generalisasi secara mandiri.
Model inquiri tercipta melalui konfrontasi intelektual, dimana siswa dihadapkan  pada situasi yang aneh dan mereka mulai bertanya-tanya tentang hal tersebut. Dikarenakan tujuan akhir pembelajaran ini adalah pembentukan pengetahuan baru, maka siswa diharapkan untuk menyelidiki dengan lebih cermat. Setelah situasi tersebut disajikan pada siswa, kepada mereka diajarkan bahwa pertama-pertama mereka perlu mengupas beberapa aspek dari situasi ini, misalnya sifat dan identitas objek serta kejadian yang berhubungan dengan situasi tersebut.
Pembelajaran inquiri menekankan pengalaman-pengalaman pembelajaran berpusat pada siswa. Dari pengalaman itu siswa menemukankan ide-ide sendiri dan menurunkan makna oleh mereka sendiri. Sedangkan menurut Piaget, paedagogi yang baik harus melibatkan siswa dalam eksperimen dalam arti yang paling luas mencoba melihat apa yang terjadi, memanipulasi tanda dan simbol, mengajukan pertanyaan dan menemukan jawabannya, mencocokan apa yang ditemukan pada suatu saat dengan yang ditemukan pada saat lain, serta membandingkan dengan penemuan orang lain.
Pandangan konstruktivis-kognitif didasarkan pada teori Piaget. Siswa dalam segala usia secara aktif terlibat dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuan mereka sendiri. Pengetahuan ini tidak statis tetapi secara terus menerus tumbuh dan berubah pada saat mereka menghadapi pengalaman baru yang memaksa mereka membangun dan memodifikasi pengetahuan awal mereka.
Menemukan merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan.
Tahap Pembelajaran Inquiri
 Menurut Joice and Weill dalam Made Wena metode pembelajaran inquiri secara umum terbagi atas lima tahap, yaitu sebagai berikut.
a)      Penyajian Masalah (confrontation with problem)
Dalam tahap ini pengajar menyajikan suatu masalah dan menerangkan prosedur inquiri pada siswa. Bentuk permasalahan perlu disesuaikan dengan tingkat pengetahuan siswa. Dalam hal ini yang penting adalah bahwa masalah itu berisi suatu kejadian / problema yang merangsang aktivitas siswa.
b)      Pengumpulan Data Verifikasi (data gathering-verification)
Dalam tahap ini siswa didorong untuk mau berusaha mengumpulkan informasi mengenai kejadian yang mereka lihat atau alami.
c)      Pengumpulan Data Eksperimentasi (data gathering-experimentation)
Dalam hal ini siswa melakukan eksperimen dengan memasukan hal-hal (variabel) baru, untuk melihat apakah akan terjadi perubahan. Dalam tahap ini siswa pun dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang hampir serupa dengan hipotesis. Dalam tahap ini siswa dapat bertanya mengenai beberapa hal yang berhubungan  dengan kejadian yang mereka lihat /rasakan, yaitu :
1)      Objek: sifat atau identitas objek;
2)      Kejadian: sifat atau sebab terjadinya;
3)      Keadaan : keadaan suatu objek atau sistem pada saat tertentu;
4)      Sifat; sifat/karakteristik suatu objek pada keadaan tertentu untuk mendapatkan informasi baru untuk membantu suatu pembentukan teori.
Tahap eksperimentasi mempunyai dua tugas : eksplorasi dan uji langsung. Dalam eksplorasi siswa mengubah beberapa hal untuk melihat apa yang akan terjadi, sedangkan dalam uji langsung siswa melakukan pengujian.
d)     Organisasi Data  Formulasi Kesimpulan (organizing, formulating and explanation)
Dalam tahap ini siswa mengkoordinasikan dan menganalisis data untuk membuat suatu kesimpulan yang dapat menjawab masalah yang disajikan.
e)      Analisis Proses Inquiri
Dalam tahap ini siswa diminta untuk menganalisis tahap inkuiri yang telah mereka jalani, yaitu dengan menentukan pertanyaan mana yang paling produktif (menghasilkan data yang paling relevan ) atau tipe informasi sebenarnya yang mereka butuhkan, tetapi tidak mereka dapatkan. Tahap ini penting untuk memperbaiki proses inkuiri itu sendiri.
Penyajian masalah, pengumpulan data verifikasi, pengumpulan data eksprimentasi, organisasi data, dan analisis data merupakan urutan proses belajar mengajar inquiri yang dapat menggugah siswa untuk dapat menyelesaikan masalah yang diberikan sehingga masalah yang dihadapi siswa dapat terselesaikan dengan baik.
pembelajaran inquiri ini berjalan lancar dan memberi hasil yang optimal dengan memperhatikan dua hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran inquiri ini menurut Diptoadi dalam Made Wena, yaitu:
1)            Interaksi pengajar siswa. Model ini bisa sangat terstuktur, dalam arti bahwa pengajar mengontrol interaksi dalam kelas serta mengarahkan prosedur inkuiri. Namun, proses inkuiri ini harus di tandai kerjasama yang baik antara pengajar dan siswa, kebebasan siswa untuk menyatakan pendapat atau mengajukan pertanyaan serta persamaan hak antara pengajar dan siswa dalam mengemukakan pendapat. Secara bertahap pengajar dapat memberikan kewenangan yang lebih banyak pada siswa dalam melaksanakan proses inkuiri.

2)            Peran pengajar. Dalam hal ini pengajar mempunyai beberapa tugas  yang sangat penting yaitu :
a.       Mengarahkan pertanyaan siswa
b.    Menciptakan suasana kebebasan ilmiah dimana siswa tidak merasa dinilai pada waktu mengemukakan pendapatnya.
c.     Mengarahkan siswa untuk membuat kesimpulan teoritis yang lebih jelas  dengan mengemukakan bukti yang menunjang
d.      Meningkatkan interaksi antar siswa
Tahap proses pembelajaran inquiri tentu tidak terlepas dari peran pendidik dalam mengarahkan siswa sebagai kontrol siswa dalam menyelidiki dan menemukan inti dari masalah yang di hadapi meskipun, peran siswa lebih banyak dalam proses belajar inquiri ini.
Peran pengajar dalam proses belajar ini sangat dibutuhkan agar siswa tidak terjerumus dengan kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi karena kekhilapan atau kurang teliti dalam menyelesaikan masalah yang diberikan. Adapun Segi Keuntungan Mengajar dengan Menggunakan Model Inquiri adalah sebagai berikut:
1.   Pengajaran Berpusat pada Diri Pembelajar. Salah satu prinsip psikologi belajar menyatakan bahwa makin besar dan makin sering keterlibatan pembelajar dalam kegiatan makin besar baginya untuk mengalami proses belajar. Dalam proses belajar inkuiri, pembelajar tidak hanya belajar konsep dan prinsip, tetapi juga mengalami proses belajar tentang pengarahan diri, pengendalian diri, tanggung jawab dan komunikasi sosial secara terpadu.
2.   Pengajaran inkuiri dapat membentuk self concept (konsep diri), sehingga terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru, lebih kreatif, berkeinginan untuk selalu mengambil kesempatan yang ada dan pada umumnya memiliki mental yang sehat.
3.   Pengembangan bakat dan kecakapan individu, lebih banyak kebebasan dalam proses belajar mengajar berarti makin besar kemungkinannya untuk mengembangkan kecakapan, kemampuan dan bakat-bakatnya.
4.   Dapat menghindarkan pembelajar dari cara-cara belajar tradisional yang bersifat Jerome Bruner, melihat beberapa segi keuntungan dari pendekatan inquiri.
a.    Pembelajar akan memahami konsep-konsep dasar dan ide-ide lebih banyak dan lebih baik.
b.   Membantu pembelajar menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru. Mendorong pembelajar berpikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri.
c.    Mendorong (memotivasi) pembelajar berpikir dan merumuskan hipotesis serta membuktikannya melalui proses belajar.
d.   Memberi kepuasan yang bersifat instrinsik.
e.    Situasi proses belajar menjadi lebih merangsang.
f.    pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh bersifat merangsang kegairahan belajar.
Pembelajaran inquiri ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap perbandingan segitiga yang merupakan dasar dari trigonometri yang dianggap oleh sebagian siswa materi yang sangat sulit pada matematika, jika dasar dari Materi ini telah dikuasai dengan baik melalui pembelajaran inquri, maka penulis yakin penguasaan materi kubus dan balok pada jenjang pendidikan berikutnya  akan mudah dikuasai dengan baik karena dasar dari kubus dan balok tersebut telah dikuasai melalui pembelajaran inquiri ini.

Di samping memiliki keunggulan, Model ini juga mempunyai kelemahan, di antaranya:
  1. Jika model ini digunakan sebagai strategi pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
  2. model ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
  3. Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.
  4. Selama kriteria keberhasiJan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka Model atau pendekatan ini akan sulit diimplementasikan oleh setiap guru

    1. Pengertian Model Pembelajaran Ekspositori
    Model Pembelajaran Ekspositori adalah suatu cara untuk menyampaikan ide atau gagasan (informasi) dengan lisan/tulisan. Dalam model ekspositori bahan pelajaran sudah disusun oleh guru secara hierarkis dan sistematik. Sehingga dalam pelajaran yang terjadi adalah guru menerangkan siswa menerima. Guru berbicara pada waktu awal pelajaran, menerangkan materi dan contoh soal pada waktu diperlukan saja. Sedangkan siswa tidak hanya mendengarkan dan mencatat saja, tetapi juga mengarjakan soal latihan dan bertanya kalau tidak mengerti. Sedangkan guru dapat memeriksa pekerjaan siswa secara individual, menerangkan lagi kepada siswa klasikal bila dirasakan banyak siswa yang belum jelas benar.
    Model pembelajaran Ekspositori dapat juga diartikan sebagai model pembelajaran yang digunakan dengan memberikan keterangan terlebih dahulu definisi, prinsip dan konsep materi pelajaran serta memberikan contoh-contoh latihan pemecahan masalah dalam bentuk ceramah, demonstrasi, tanya jawab dan penugasan. Siswa mengikuti pola yang diterapkan oleh guru secara cermat. Penggunaan model ekspositori merupakan model pembelajaran mengarah kepada tersampaikannya isi pelajaran kepada siswa secara langsung. 
    Pendekatan ini diharapkan siswa dapat menangkap dan mengingat informasi yang telah diberikan guru, serta mengungkapkan kembali apa yang telah dimilikinya melalui respon yang diberikan pertanyaan oleh guru. Komunikasi yang digunakan guru dalam interaksinya dengan siswa menggunakan komunikasi satu arah atau komunikasi sebagai aksi. Oleh karena itu, kegiatan belajar siswa kurang optimal, sebab terbatas kepada mendengarkan uraian guru, mencatat, dan sekali-kali bertanya kepada guru.
      “Model pembelajaran ekspositori adalah penyampaian yang dimulai ceramah di awal pelajaran, contoh soal, latihan dan guru memberikan bantuan secara individual atau klasikal jika diperlukan, tanya jawab, serta pemberian tugas”.
    Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa Model pembelajaran ekspositori merupakan tehnik pembelajaran matematika yang di awali dengan menerangkan materi serta contoh soal, siswa membuat catatan, guru memberi soal latihan dan memberikan bantuan jika diperlukan, kemudian diakhiri dengan pemberian tugas.


    B. Tahap Pembelajaran Ekspositori
    Menurut Tarsito Suharyono, Model Pembelajaran ekspositori mempunyai kelebihan dan kekurangannya, kelebihan Model Pembelajaran ekspositori adalah sebagai berikut:
    1.      Dapat menampung kelas besar, tiap siswa mempunyai kesempatan aktif yang sama.
    2.      Bahan pelajaran diberikan secara urut oleh guru.
    3.      Guru dapat menentukan terhadap hal-hal yang dianggap penting.
    4.      Guru dapat memberikan penjelasan secara individual maupun klasikal.

    Kekurangan model Ekspositori adalah sebagai berikut:
    1.      Pada model ini tidak menekankan penonjolan aktifitas fisik seperti aktivitas mental siswa.
    2.      Interaksi berlangsung satu arah saja.
    3.      Pengetahuan yang didapat dengan model ekspositori cepat hilang.
    4.      Kepadatan konsep-konsep dan aturan-aturan yang di berikan dapat berakibat siswa tidak menguasai bahan pelajaran yang diberikan.
     
     Teori Pemahaman
    Pemahaman mendalam tentang teori belajar bukan hanya berguna bagi guru, dosen, atau para praktisi pendidikan, melainkan juga bagi para desainer atau perancang pembelajaran. Salah satu teori belajar yang banyak menyita perhatian dan telah mempengaruhi kebijakan pendidikan di dunia saat ini adalah konstruktivisme.
    Pemahaman adalah suatu isu yang meluas di luar batasan-batasan pendidikan matematika. Banyak teori-teori umum tentang belajar, termasuk tentang perbedaan skemata awal yang dimiliki pebelajar, berkaitan dengan upaya siswa mencapai pemahaman. pemahaman adalah salah satu aspek dalam belajar yang digunakan sebagai dasar mengembangkan model pembelajaran dengan memperhatikan indikator pemahaman.
    Pemahaman juga dapat di jelaskan sebagai salah satu ide yang diterima secara luas dalam pendidikan matematika adalah bahwa siswa harus memahami matematika. Matematika tidak ada artinya kalau hanya dihafalkan. Banyak siswa dapat menyebut definisi Bangun Ruang (Kubus dan Balok), tetapi bila kepada mereka diberikan suatu soal ataupun ditanyakan apakah Kubus dan Balok adalah bangun ruang, mereka menjawab “tidak tau”. Kutipan ini menunjukkan kegagalan siswa memahami konsep, sehingga pembelajaran matematika berorientasi pemahaman perlu diperhatikan.



    Teori pemahaman yang diajukan oleh Hiebert dan Carpenter didasari atas tiga asumsi, yaitu :
    1.      pengetahuan direpresentasikan secara internal dan representasi internal ini terstruktur.
    2.      terdapat relasi antara representasi internal dan representasi eksternal.
    3.      representasi internal saling terkait.
    Ketika relasi representasi internal dari gagasan/ide/konsep dikonstruk, relasi itu akan menghasilkan kerangka pengetahuan. Kerangka pengetahuan tersebut tidak serta merta terbentuk, tetapi terbentuk secara alami. Sifat alami representasi internal dipengaruhi dan dibatasi oleh sifat alami.
    pemahaman dalam matematika adalah membangun koneksi antara gagasan atau ide, fakta, atau prosedur bukanlah hal yang baru. Gagasan ini merupakan suatu tema yang selalu menarik dan eksis. Banyak dari mereka sepakat bahwa pemahaman dalam belajar matematika melibatkan pengenalan hubungan antara potongan-potongan informasi.
    Apakah yang dimaksud memahami matematika? Menurut Hiebert dan Carpenter.“ Ini berarti bahwa ide (konsep), prosedur dan fakta matematika dipahami jika ia terkait dalam jaringan kerangka yang telah ada dengan lebih kuat atau lebih banyak keterkaitannya.
    Dikatakan bahwa orang membangun pengetahuan dan pemahaman mereka tentang dunia dengan mengalami sesuatu dan merefleksikan sesuatu itu dengan pengalaman yang diperoleh sendiri dalam kehidupan sebelumnya. Artinya, ketika kita menghadapi sesuatu yang baru, hendaknya sesuatu yang baru itu dipadukan dengan ide dan pengalaman ril yang diperoleh di masa sebelumnya.
                Perpaduan dari kedua kenyataan ini boleh jadi akan mengubah suatu kepercayaan kita terhadap sesuatu yang baru itu atau mungkin membuangnya jauh-jauh karena tidak relevan dengan pola pikir, keyakinan, ideologi, tradisi, dan budaya setempat.
    Beberapa kasus, kita adalah orang yang selalu aktif dalam menghasilkan ide-ide kreatif dan produktif sebagai refleksi terhadap fenomena yang terjadi di sekitar kita. Untuk dapat melakukan hal ini, perlu ditempuh beberapa langkah yang mencakup mengajukan beberapa pertanyaan kritis, melakukan eksplorasi, dan mengakses apa yang ingin diketahui.
                Pola kerja semacam inilah yang oleh kaum konstruktivis perlu diaplikasikan dalam pembelajaran sehingga guru dan murid dapat terbiasa membangun pengetahuan dan membuat makna dari hasil kajian kritis terhadap fenomena yang terjadi di lingkungan kita.
    Teori pemahaman sebagaimana dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan lain perlu menganalisa secara dialektis, yaitu bukannya menganggap pemahaman kita sudah jadi dan tidak berubah-ubah, tetapi menyelami bagaimana dari ketidak tahuan menjadi berpengetahuan, bagaimana pengetahuan yang kurang penuh, yang kurang tepat menjadi lebih penuh dan lebih tepat.
    Ada tiga macam pemahaman matematik, yaitu : pengubahan (translation), pemberian arti (interpretasi) dan pembuatan ekstrapolasi (ekstrapolation). Pemahaman translasi digunakan untuk menyampaikan informasi dengan bahasa dan bentuk yang lain dan menyangkut pemberian makna dari suatu informasi yang bervariasi. Interpolasi digunakan untuk menafsirkan maksud dari bacaan, tidak hanya dengan kata-kata dan frase, tetapi juga mencakup pemahaman suatu informasi dari sebuah ide. Sedangkan ekstrapolasi mencakup estimasi dan prediksi yang didasarkan pada sebuah pemikiran, gambaran kondisi dari suatu informasi, juga mencakup pembuatan kesimpulan dengan konsekuensi yang sesuai dengan informasi jenjang kognitif ketiga yaitu penerapan (application) yang menggunakan atau menerapkan suatu bahan yang sudah dipelajari ke dalam situasi baru, yaitu berupa ide, teori atau petunjuk teknis.
    Pengklasifikasikan pemahaman (Comprehension) ke dalam jenjang kognitif kedua yang menggambarkan suatu pengertian, sehingga siswa diharapkan mampu memahami ide-ide matematika bila mereka dapat menggunakan beberapa kaidah yang relevan. Dalam tingkatan ini siswa diharapkan mengetahui bagaimana berkomunikasi dan menggunakan idenya untuk berkomunikasi. Dalam pemahaman tidak hanya sekedar memahami sebuah informasi tetapi termasuk juga keobjektifan, sikap dan makna yang terkandung dari sebuah informasi atau pun materi. Dengan kata lain seorang siswa dapat mengubah suatu informasi dan materi yang ada dalam pikirannya kedalam bentuk lain yang lebih berarti.
    Ada beberapa jenis pemahaman yaitu :
    1. Polya, membedakan empat jenis pemahaman:
      1. Pemahaman mekanikal, yaitu  dapat mengingat dan menerapkan sesuatu secara rutin atau perhitungan sederhana.
      2. Pemahaman induktif, yaitu dapat mencobakan sesuatu dalam kasus sederhana dan tahu bahwa sesuatu itu berlaku dalam kasus serupa.
      3. Pemahaman rasional, yaitu dapat membuktikan kebenaran sesuatu.
      4. Pemahaman intuitif, yaitu dapat memperkirakan kebenaran sesuatu tanpa ragu-ragu, sebelum menganalisis secara analitik.
    2.      Polattsek, membedakan dua jenis pemahaman:
      1. Pemahaman komputasional, yaitu dapat menerapkan sesuatu pada perhitungan rutin/sederhana, atau mengerjakan sesuatu secara algoritmik saja.
      2. Pemahaman fungsional, yaitu dapat mengkaitkan sesuatu dengan hal lainnya secara benar dan menyadari proses yang dilakukan.
    3.      Copeland, membedakan dua jenis pemahaman:
      1. Knowing how to, yaitu dapat mengerjakan sesuatu secara rutin/algoritmik.
      2. Knowing, yaitu dapat mengerjakan sesuatu dengan sadar akan proses yang dikerjakannya.
    4.      Skemp, membedakan dua jenis pemahaman:
      1. Pemahaman instrumental, yaitu hafal sesuatu secara terpisah atau dapat menerapkan sesuatu pada perhitungan rutin/sederhana, mengerjakan sesuatu secara algoritmik saja.
      2. Pemahaman relasional, yaitu dapat mengkaitkan sesuatu dengan hal lainnya secara benar dan menyadari proses yang dilakukan.
    Pemahaman matematis penting untuk belajar matematika secara bermakna, tentunya para guru mengharapkan pemahaman yang dicapai siswa tidak terbatas pada pemahaman yang bersifat dapat menghubungkan. Menurut Ausubel bahwa belajar bermakna bila informasi yang akan dipelajari siswa disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa sehingga siswa dapat mengkaitkan informasi barunya dengan struktur kognitif yang dimiliki. Artinya siswa dapat mengkaitkan antara pengetahuan yang dipunyai dengan keadaan lain sehingga belajar dengan memahami.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar